"Duh... tatapan itu lagi. Kenapa kalian selalu bereaksi dengan cara yang sama setiap kali melihat penampilanku? Apa tidak bisa sekali saja bersikap berbeda?" Batin Lynx terasa getir, kesal bercampur kecewa ketika melihat wajah-wajah para perampok dan penduduk yang menatapnya penuh ngeri.

"I-iblis... dia iblis..." bisikan panik salah seorang penjahat terdengar patah-patah, wajahnya pucat pasi seolah kehilangan darah.

"Makhluk macam apa itu? Apakah dia manusia?" Suara gemetar seorang pedagang terdengar lirih, matanya bergetar tak berani menatap lama.

"Iblis? Mereka menyebutnya iblis?" Seorang pedagang lain menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin menetes dari pelipisnya.

"Seperti inikah namanya iblis? Sangat menyeramkan." Suara lain menyahut dengan nada patah penuh ketakutan.

Udara hutan seketika menjadi dingin menusuk, bukan dingin cuaca, melainkan dingin rasa takut yang merambati setiap pori-pori. Mereka semua, tanpa terkecuali, menatap sosok yang tiba-tiba muncul. Tubuhnya menyerupai manusia dengan dua kaki dan dua tangan, tetapi penampilannya seperti patung baja hidup, berdiri gagah sekaligus mengintimidasi.

Setengah tubuhnya berwarna hijau gelap yang berkilau dingin seperti giok beku, sementara sisi lainnya hitam pekat, seolah menyerap setiap cahaya yang mendekat. Sebuah garis metalik lurus membelah tubuhnya dari kepala hingga perut, menciptakan kesan seakan dua dunia disatukan dalam satu wujud.

Di dada kirinya terpampang jelas sebuah huruf P berwarna emas, berkilau samar, seolah berdenyut dengan kekuatan misterius. Bagian bahu, lengan, dan dadanya dihiasi pola-pola garis bersinar samar, memancarkan wibawa dingin seperti besi abadi. Pada pergelangan tangan dan kakinya, gelang berukir pola rumit bercahaya samar, tampak seperti segel kuno yang terpatri selamanya.

Kepalanya mulus berbentuk bulat, matanya panjang membulat dengan cahaya merah terang yang menyalak seperti bara. Tatapan itu bagaikan api neraka, membakar jiwa siapa pun yang berani menatapnya. Sosok itu, di mata mereka, bukan lagi manusia melainkan iblis logam yang lahir dari jurang tergelap neraka.

Tekanan kekuatannya membuat napas mereka semua terasa sesak. Hanya satu orang di sana, pria tua di ranah immortal, yang mampu mengenali bahwa sosok dihadapan mereka berada di ranah Immortal seperti dirinya.

Mendengar semua ucapan itu, dada Lynx serasa ditusuk. Hatinya sakit dan perih, wajahnya menegang. Ia ingin sekali diterima, namun yang dia dapat hanya ketakutan. "Kalau mereka menolak penampilanku hari ini, aku akan memaksa mereka untuk terbiasa. Aku harus terus memakai wujud ini. Cepat atau lambat mereka akan mengerti... bahkan mungkin menyukainya." Ia menggertakkan giginya, meyakinkan diri. Pakaian tempur itu adalah impian masa kecilnya, dia tidak ingin menggantinya dengan model lain hanya karena orang lain takut.

Para perampok menelan ludah, tubuh mereka gemetar hebat. Sebagian menoleh ke kiri dan kanan mencari celah untuk melarikan diri, sebagian lainnya hanya berdiri kaku, kaki mereka seolah tertanam ke tanah.

"P-Pimpinan... iblis itu ada di sini..." suara serak seorang perampok nyaris terputus.

"Ini... pasti ulah para wanita sialan itu!" bentak sang pimpinan perampok dengan wajah tegang, mencoba menutupi rasa gentarnya.

"Keluarlah kalian semua!" teriaknya lantang, suara bergetar tapi menggema hingga ke seluruh hutan. Meski bibirnya lantang, dadanya sesak oleh kekhawatiran. Sosok berwarna hijau-hitam itu, meski hanya sebesar manusia, memiliki tekanan kekuatan yang jauh di atas dirinya.

Pria tua berambut putih yang berdiri congkak sejak awal kini tampak berbeda. Giginya bergemeletuk, dadanya naik turun cepat. Sosok di hadapannya mengingatkannya pada makhluk raksasa bermata enam, bertaring panjang, bertanduk melengkung ke belakang, dan tubuh menjulang tinggi penuh duri menyala. Makhluk yang pernah dengan mudah menghancurkan formasi Segel Roh Langit, formasi terkuat keluarga Baihuan.

Saat itu dia sendiri pernah berdiri di hadapan makhluk itu, dan jiwanya terasa ditusuk ribuan jarum halus hanya karena bertatapan. Ketakutan yang masih menghantuinya hingga kini.

Andai bukan karena Ketua Monrest, yang menggunakan kekuatan energi iblis untuk menumbangkan makhluk itu, tidak seorang pun dari para ahli Immortal keluarga Baihuan bisa bertahan. Setelah pertempuran selesai, beredar rumor siapapun yang menatap mahluk itu, jiwa mereka terasa melayang dan membuat mereka tidak mampu menghadapinya. Mahluk yang menyerang keluarga Baihuan dulu adalah mimpi buruk, makhluk itu memiliki efek tidak langsung yaitu menyerang dan melukai jiwa para kultivator bahkan membuat mereka merasa mimpi buruk. Mereka semua yang melihatnya mengalami rasa takut yang tidak bisa dijelaskan meskipun waktu telah lama berlalu.

Pria tua itu berusaha mengusir bayangan ketakutannya dengan mengaum.

"Kau pikir dengan wujud iblis seperti itu bisa menakutiku?! Aku tidak akan gentar hanya karena penampilan busukmu!" suaranya menggema, mencoba menyembunyikan getaran di dadanya.

Ia mengangkat tangan, energi hitam bergulung liar, auranya melonjak ganas. Ranah Immortal tahap menengah memuntahkan kekuatan penuh, cahaya hitam membakar hutan di sekitarnya.

"Heaven Fist Dark Breaker!!"

Tubuhnya melesat seperti kilat, tinjunya meluncur bagaikan meteor jatuh.

DUUUMMMM!!!

Ledakan mengguncang bumi. Pohon-pohon meledak tercerabut, tanah terbelah, batu-batu beterbangan. Gelombang kejut menghantam ke segala arah, membuat pedagang dan keluarga mereka menjerit histeris, menutupi kepala sambil menangis. Sebagian yang dekat terhantam hempasan angin, tubuh mereka terpental ke tanah, darah menyembur dari mulut.

Para pengawal berusaha melindungi mereka, namun lutut mereka bergetar, hampir tak sanggup berdiri di tengah getaran besar itu. Murid-murid Sekte Akar Kehidupan bersusah payah menjaga formasi pertahanan, wajah mereka pucat pasi.

Pria tua itu mendarat dengan penuh percaya diri, suaranya lantang. "Rasakan itu! Aku akan mengembalikanmu ke tempat asalmu, iblis hina!"

Namun tiba-tiba, tubuhnya membeku. Matanya melebar. Napasnya tercekat. Sosok hijau-hitam itu masih berdiri di tempat yang sama. Tidak bergeser sedikit pun.

Lynx berdiri kaku, matanya menyala seperti bara neraka, menatap pria tua yang masih membeku dengan wajah terkejut. Dalam hatinya, pikiran berputar cepat.

"Keluarga Baihuan… mereka melakukan kejahatan dimana-mana. Mereka harus dimusnahkan agar tidak ada lagi yang bernasib sama dengan Ou Ruoyun. Aku harus menemukan lokasi persembunyian mereka. Hanya dengan itu aku bisa menemukan Monrest dan menyelamatkan penduduk lain. Ah… sekte Pedang Es, mereka punya dendam mendalam terhadap Baihuan. Aku tahu mereka merencanakan sesuatu… seharusnya aku bisa memanfaatkan itu. Namun..."

Tatapannya mengeras, napasnya berat.

"Sekarang bukan waktunya. Pemangsa Yin… itu lebih penting bagiku saat ini. Jika aku melumpuhkan mereka sekarang, Monrest pasti akan turun tangan dengan segel jiwa di tubuh mereka. Tidak… aku tidak boleh gegabah. Yang harus kulakukan hanyalah meninggalkan jejak. Setelah urusanku selesai, aku bisa mencarinya kembali."

Dengan gerakan nyaris tak terlihat, jari Lynx sedikit bergerak. Dari ujungnya, energi samar, dingin dan tak kasat mata, meluncur menembus udara. Kilatan itu tak terdengar, tak berwujud, seperti bayangan halus yang merayap.

Energi sakti itu hinggap di tubuh pria tua dan beberapa orang kawanan perampok, menempel diam-diam di dalam aliran darah mereka. Tak seorang pun bisa menyadarinya. Para anak buah dan pimpinannya, murid sekte, bahkan pria tua itu sendiri tidak merasakan apa pun.

Lynx menatapnya tenang, tanpa mengubah ekspresi wajah. Sementara di balik sorot matanya, ia menyimpan keyakinan. Jejak itu akan menjadi penuntunnya, jalan menuju keluarga Baihuan, dan pada akhirnya, menuju Monrest.

Setelah memastikan sudah meninggalkan jejak, Lynx tidak ingin menunda lagi. Dia sudah bosan dengan adegan yang sama, orang-orang menyerang dia berkali-kali tanpa hasil lalu terakhir setelah putus asa, baru dia bergerak. Dia sedang ada urusan penting yang harus di lakukan, selain itu Ou Ruoyun menunggunya di balik pohon.

Lynx meningkatkan aura qi spiritual pakaian tempurnya, tekanan immortal tahap akhir yang diarahkan ke pria tua tersebut membuat pria tua itu semakin pucat. Pukulan yang sudah dia keluarkan dengan sepenuh tenaga tidak memberikan dampak apapun, dan kini dia menyadari kekuatan mahluk di depannya ini bahkan melebihi ranah dirinya yang hanya berada di immortal pertengahan.

"Tidak... aku yakin kekuatannya melebihi tingkat akhir. Tekanan ini melebihi kekuatan para tetua. Hanya ketua Monrest yang dapat menghadapinya." batin pria tua tersebut. Dia berencana menghubungi ketua Monrest.

DUAG!!!

Lynx yang sudah pernah melihat hal tersebut bergerak cepat, dia merebut batu formasi dan menendang pria tua tersebut dengan santai namun dampak serangannya membuat pria tua itu terlempar jauh menabrak beberapa pohon tanpa henti.

"Pergilah! Untuk kali ini aku akan melepaskan kalian. Tapi tidak untuk kedua kalinya." kata Lynx dengan tegas. Suaranya memecah keheningan karena keterkejutan mereka melihat penampilan Lynx.

Para murid senior Sekte Akar Kehidupan yang mengenali tekanan yang dikeluarkan pria tua tersebut tercengang karena menyadari kekuatan pria tersebut berada di ranah Immortal, namun yang lebih mencengangkan lagi, sosok iblis yang berdiri di hadapan mereka ternyata dapat dengan mudah mengalahkan pria tua tersebut tanpa terasa fluktuasi energi qi spiritual.

"Iblis... mungkinkah kita semua akan mati ditangannya..." pikir mereka.

